Setelah lulus, aku dihadapkan pada pilihan besar: menetap dengan alasan pengabdian atau mengambil peluang lain yang sebenarnya lebih pasti. Keputusan itu tidak mudah. Ada rasa sedih yang muncul karena kepastian belum juga datang, ada lelah yang kadang tak bisa disembunyikan. Namun di balik itu semua, aku perlahan belajar melihat arti syukur dari sisi yang berbeda.
Syukur itu ternyata bukan hanya hadir saat semua berjalan sesuai rencana. Kadang, syukur justru datang ketika Allah memintaku untuk berhenti sejenak, untuk beristirahat dari hiruk-pikuk perjalanan duniawi ini. Aku merasa diminta untuk melangkah lebih pelan, take slow down, sambil membuka diri pada hal-hal baru yang sebelumnya mungkin tak sempat kupelajari. Dalam jeda itu, aku menemukan ruang untuk menguatkan hati, untuk memahami makna kesabaran, dan untuk melihat hidup dengan cara yang lebih tenang.
Kalau kuingat kembali beberapa bulan yang lalu, aku sempat berlari kencang: berusaha menyelesaikan studi lebih cepat, mengejar kelulusan, sekaligus menyiapkan diri menuju pernikahan. Semuanya datang hampir bersamaan, membuatku sering kali merasa terbebani. Tapi justru dari situ aku belajar bahwa tidak semua hal harus selesai dengan tergesa. Ada kalanya Allah sengaja memberi jalan berliku agar aku bisa belajar lebih banyak, agar aku bisa menghargai proses, bukan hanya hasil akhirnya.
Kini, meski kepastian masih terasa jauh, aku mencoba melihat setiap hari sebagai kesempatan untuk bersyukur. Bersyukur karena masih diberi kesehatan, diberi waktu untuk belajar hal baru, dan diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Aku percaya bahwa kesedihan dan syukur bisa berjalan beriringan: sedih membuatku jujur pada perasaan, sementara syukur menjaga hatiku tetap hangat dan penuh harapan.
Ada satu hal lagi yang membuatku semakin yakin bahwa rasa syukur selalu punya tempat, bahkan dalam situasi sulit: keberadaan suami. Ia bukan hanya pasangan hidup, tetapi juga sahabat terdekat yang mendengarkan dengan penuh kesabaran, mendukung setiap rencanaku meski penuh ketidakpastian, sering gonta-ganti dan menguatkan ketika langkahku mulai goyah. Saat orang lain meragukan mimpiku, justru dialah yang meyakinkan bahwa aku masih bisa terus berjalan, meski pelan, sambil membuka diri pada hal-hal baru. Dukungan itu adalah anugerah besar, pengingat bahwa aku tidak pernah benar-benar sendiri.
Allah pun mengingatkan kita dalam firman-Nya:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.”(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hati yang membuka pintu kebaikan lain. Bahkan di tengah kesulitan, ketika mampu bersyukur, sesungguhnya Allah sedang menyiapkan tambahan nikmat yang mungkin belum kita lihat sekarang, tetapi akan hadir pada waktunya.Mungkin inilah cara Allah menuntunku—lewat kesulitan aku diajak untuk lebih sabar, lewat penantian aku diajak untuk lebih ikhlas, dan lewat jeda aku diajak untuk lebih dekat pada-Nya.Dan mungkin, syukur juga tidak selalu harus besar. Terkadang ia hadir dalam hal-hal sederhana: kesehatan, kesempatan untuk belajar hal baru, pasangan hidup yang mendukung, atau bahkan sekadar waktu untuk bernapas tenang.
Hari ini aku pun belajar bersyukur. Ya, bersyukur meski melihat teman-teman sudah melangkah ke pekerjaan yang selama ini mereka cita-citakan. Ada rasa iri yang sesekali muncul, tentu saja, karena aku pun pernah membayangkan berada di posisi itu—meraih kepastian, menyenangkan keluarga, dan menenangkan hati. Tetapi kemudian aku menatap diriku sendiri, di hadapan layar laptop yang sederhana ini, menuliskan refleksi di blog sembari baru saja selesai rapat daring membahas agenda international collaboration dengan Paris. Saat itu aku tersadar, bahwa bentuk perjalanan setiap orang memang berbeda.
Aku bersyukur karena meskipun tidak berada di panggung yang sama dengan mereka, aku masih diberi ruang untuk berkontribusi, meski dengan peran kecil yang mungkin nyaris tak terlihat. Justru dalam peran kecil itu aku belajar rendah hati, belajar melihat bahwa arti kehadiran tidak selalu diukur dengan besar atau kecilnya pencapaian, melainkan dengan seberapa tulus kita menjalani prosesnya.
Malam ini aku merenung cukup lama. Ada pertanyaan yang terus datang berulang: apakah aku akan tetap berada di disposisi ini, bertahan di jalur yang penuh ketidakpastian, ataukah sebaiknya aku mencari kesibukan lain, sesuatu yang lebih jelas dan mungkin lebih cepat memberikan hasil? Pikiran itu berputar-putar, menimbulkan gelisah, membuat hati tidak tenang. Namun perlahan, setelah perenungan panjang, aku menemukan jawaban yang sederhana tapi menenangkan: aku memilih untuk tetap berada di jalanku. Jalan yang mungkin sepi, mungkin penuh ragu, tetapi di situlah aku merasa paling jujur pada diriku sendiri.
Aku memilih untuk menyelesaikan apa yang belum selesai, memberikan makna pada hal-hal yang sudah dimulai, dan membuka hati pada setiap peluang yang datang, sekecil apa pun itu. Aku percaya bahwa setiap jeda bukan sekadar berhenti, melainkan kesempatan untuk mengatur langkah, menata hati, dan mempersiapkan diri menuju babak berikutnya. Sambil menunggu, aku ingin terus berusaha, terus belajar, dan terus menjaga syukur. Karena aku yakin, pada akhirnya, takdir akan membawaku ke tempat yang tepat, pada waktu yang paling indah menurut Allah.
Dan di atas semua itu, aku tetap memilih mempercayai Allah. Mempercayai bahwa setiap perasaan, setiap penantian, dan setiap perjalanan—betapapun berliku—selalu berada dalam genggaman-Nya.